Bagaimana Tokoh Agama Memandangan Konsep PayTren?

//Bagaimana Tokoh Agama Memandangan Konsep PayTren?

Bagaimana Tokoh Agama Memandangan Konsep PayTren?

PayTren yg adalah salah satu wujud pembayaran online, kala ini sedang marak di masyarakat. Bagaimana PayTren di dalam pandangan para pemuka agama?

H Reza Ahmad Zahid, LC MA, pengasuh Ponpes Al Mahrusiyah, Lirboyo menandaskan, Paytren produk yg halal dan tak berguna diperdebatkan lagi. Tak hanya halal namun halal dengan nilai lebih halal.

“PayTren kalau dinilai mendapatkan A plus. Seolah-olah halnya hukum seumpama mualamat berdasarkan patokan fiqih, segala sesuatu di dunia boleh. Selagi enggak ada dalil dengan argumen yg mengharamkannya oleh karena itu tetap boleh,” jelas H. Reza Ahmad Zahid, LC. MA.

H. Reza Ahmad menegaskan mualamah banyak jenisnya. Sesuatu yg berisi unsur riba, Dhoror (penipuan), Dhorot (imbas negatip), Al jahalah (enggak tersedia transparansi) antara penjual serta pembeli hukumnya haram.

“Selagi PayTren terhindar dari empat ini, hukumnya halal. Serta sampai waktu ini, PayTren terhindar dari empat persoalan yg menimbulkan jadi haram. Sekali lagi, PayTren hukumnya halal dengan nilai A plus,” tegas  H. Reza Ahmad.

Menurutnya PayTren sarana transaksi masa kini yg sedang berkembang serta dikembangkan oleh Ustadz Yusuf Mansur. Semua transaksi  pembayaran dapat dikerjakan dan memakai PayTren dan ini menjadi penemuan yg telah disesuaikan dengan tren tehnologi yg berkembang waktu ini.

Sementara KH. Ma’ruf Khozin dari PWNU Jatim menandaskan tak berarti lagi adanya keraguan di dalam PayTren. “Didapatkannya sertifikasi syariah dari MUI memberi ketegasan bahwasanya metode syariah PayTren tak melanggar serta terjamin dijadikan salah satu usaha,” jelasnya.

Menurutnya persoalan ekonomi dapat dikembangkan dan diinovasikan asal dengan tak melanggar rambu-rambu aturan yang sudah pasti. MUI pastinya butuh waktu lama buat memberikan sertifikat syariah terhadap PayTren.

By | 2017-11-22T16:28:57+00:00 November 22nd, 2017|news|0 Comments

Leave A Comment