Banting Setir Jalankan Bisnis Online, Padahal Dahulunya Seorang Wartawan

//Banting Setir Jalankan Bisnis Online, Padahal Dahulunya Seorang Wartawan

Banting Setir Jalankan Bisnis Online, Padahal Dahulunya Seorang Wartawan

MENJADI karyawan pada perusahaan media dan menerima gaji saban bulan, telah dinikmati Trisno –sapaan akrab Sutresno Wahyudi. Namun, berada di zona nyaman dengan mempunyai penghasilan tetap sebagai seorang karyawan, tidak membuatnya terlena untuk terus berkutat pada pekerjaan.

Sekira 2015 lalu, pria kelahiran Tarakan 26 Juni 1982 ini pun memutuskan meninggalkan profesinya sebagai seorang wartawan yang pada puncak kariernya sempat menjadi seorang redaktur pelaksana.

Ia pun memutuskan untuk menggeluti bisnis online jaringan Ustaz Yusuf Mansyur. Namun, bukan berarti tanpa pertimbangan dan proses panjang sehingga dirinya lebih memilih menjalani bisnis online. Berawal dari perjalanan ibadahnya ke Tanah Suci pada pertengahan 2015 lalu.

“Salah satu doa saya saat umrah, saya kepengin punya usaha yang mudah dijalankan tanpa banyak meninggalkan waktu bersama keluarga, tidak memerlukan banyak modal, risiko meruginya kecil atau bahkan tidak ada. Karena jujur saja, saat itu saya tidak punya banyak saldo di tabungan,” kenangnya saat berbincang dengan Bulungan Post, Jumat (27/1).

Sepulang dari umrah, dirinya pun dihadapkan pada banyak pilihan untuk mulai menggeluti usaha, mulai agen penjualan tiket pesawat, biro perjalanan umrah dan haji, kafe, laundry, rumah makan hingga konveksi.

“Tapi semua pilihan usaha itu membutuhkan modal yang tidak sedikit. Tidak mungkin saya mengajukan pinjaman ke bank, karena saya sudah bertekad menjauhi riba,” ujarnya.

Singkat cerita, Trisno memutuskan akan menekuni bisnis online setelah bertemu Ustadz Yusuf Mansur di Masjid Istiqlal Jakarta. “Sebelumnya saya tidak percaya kalau PayTren itu punya UYM (Ustaz Yusuf Mansyur). Karena saya terbiasa selama lebih 10 tahun jadi wartawan bahwa segala sesuatu harus konfirmasi ke narasumbernya. Jadi itu yang saya lakukan,” paparnya.

Bak gayung bersambut, Trisno pun mendapatkan tawaran agar melanjutkan studi strata 1 yang terbengkalai. Dia pun memutuskan resign dari sebuah perusahaan media tempatnya bekerja.

“Alhamdulillah, Allah menjawab doa saya dengan adanya bisnis (online) ini. Apapun aktivitasnya, usaha ini bisa dijalankan. Karena bisa dijalankan secara online maupun offline. Sangat simpel,” terangnya.

Setelah resmi bergabung dengan jaringan usaha yang dirintis Ustaz Yusuf Mansyur, dia pun total mempelajarinya. Karena menurutnya, sebelum mengenalkan usaha yang ditekuninya kepada banyak orang, dia wajib tahu ilmunya.

Di awal menjalankan, banyak tantangan dihadapi. Mulai dari cibiran karena menilai usaha yang dijalaninya adalah produk gagal Ustaz Yusuf Mansyur, ada juga yang mengatakan multi level marketing (MLM) yang diharamkan, usaha yang menguntungkan upline, harga pulsa yang mahal, dan lain-lain.

“Yang banyak diperdebatkan itu menilai bisnis ini seperti MLM pada umumnya. Padahal berbeda. Ada yang juga bilang MLM itu haram. Padahal, justru senantiasa memperhatikan pedoman penjualan langsung berjenjang syariah yang diatur dalam fatwa MUI. Selain itu, sejumlah tokoh memikirkan agar bisnis ini berjalan sesuai relnya. Ada Ustaz Profesor Syafii Antonio, komisaris bisnis ini. Beliau adalah pakar keuangan dan perbankan syariah dunia,” urainya.

Mengapa Trisno begitu yakin menekuni usahanya hingga kini memiliki ribuan mitra yang tersebar tidak hanya di wilayah Indonesia saja, tapi juga sejumlah negara? “Kalau sebagai karyawan, saya harus kerja sebulan dulu untuk mendapatkan gaji. Alhamdulillah kalau di usaha ini dengan income yang sama, insya Allah bisa didapatkan dalam sehari. Nah, mau yang harus kerja sebulan dulu atau sehari, itu kan pilihan,” ujarnya.

Yang terpenting baginya usaha yang dijalani penuh ikhtiar agar Indonesia menjadi tuan di negerinya sendiri. Yang diperjuangkan di usaha ini, kata dia, adalah menyelamatkan uang recehan yang selama ini diincar pemodal besar karena dikalikan jumlah penduduk Indonesia potensinya triliunan rupiah.

“Ternyata di balik transaksi pulsa, listrik dan aneka pembayaran lainnya, itu potensinya ratusan triliunan rupiah. Padahal, beli pulsa, bayar listrik dan lain sebagainya, ibaratnya itu pengeluaran rutin manusia sampai kiamat. Artinya, jika kita tidak meninggalkan zona nyaman bertransaksi, maka selamanya potensi ratusan triliunan rupiah kita berikan ke pemodal besar,” bebernya.

Diakuinya ada beberapa orang yang merasa bahwa bisnis online yang digelutinya tidak menguntungkan karena menilai hanya usaha jualan pulsa dan tiket pesawat. Ada juga yang merasa tidak bisa menjalankan karena sibuk dengan pekerjaan. Padahal, kata dia, menjalankannya tidak perlu waktu dan tempat khusus.

Hasilnya pun sudah dinikmati Trisno. Jika saat menjadi karyawan dengan gaji bulanan hanya mendapatkan Rp 4 juta setiap bulan, di bisnis ini ia mampu meraup omzet dengan angka yang sama hanya dalam sehari.

 

http://bulungan.prokal.co

By | 2017-07-05T21:18:22+00:00 Juli 5th, 2017|Informasi|0 Comments

Leave A Comment